Tribun Batam - Senin, 3 Desember 2012 13:58 WIB
Laporan Tribunnews Batam, Anne Maria
TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM- Setelah terjadi insiden penganiayaan atas Ayong seorang sopir taksi Blue Bird di kawasan pasar Jodoh beberapa waktu lalu, pihak manajemen Blue Bird kembali harus menunda operasionalnya sementara waktu. Noni Purnomo Vice President Business Development Blue Bird Group yang khusus hadir menemui para sopir Blue Bird di Batam mengungkapkan secara tak langsung bahwa langkah itu dilakukan untuk menjaga keselamatan para sopir.
Wanita berambut pendek itu, mengatakan bukan menganggap semangat para sopir Blue Bird lemah, tapi pihaknya tidak menginginkan adanya korban lagi.
"Bukan bapak-bapak yang harus mengucapkan terimakasih. Tapi sayalah, termasuk manajemen yang sangat berterimakasih. Bahwa bapak-bapak masih setia mendukung kami dan mau berbesar hati. Tapi saya juga nggak mau bapak-bapak kenapa-kenapa," ujarnya saat pemberian Penghargaan Satria Biru Untuk Pengemudi Blue Bird Group, Senin (3/12) pagi di pool.
Dirinya menyayangkan tindakan kekerasan yang dialami sopir tersebut. Padahal, menurut dia, apa yang dilakukan pihaknya adalah baik guna membangun tranportasi di Batam, dan kedepannya mampu memberikan citra Batam lebih baik lagi.
"Apalagi pak Ayong juga orang Batam, kami minta proses secara tuntas. Karena ini bukan lagi tuntutan kami saja, melainkan para sopir yang sudah merasakan ketidakadilan dari kepolisian dan pemerintah kota," bebernya. Semua jalan yang sesuai aturan sudah dilakukan oleh Blue Bird, tetapi tak juga bisa didengarkan oleh pihak-pihak terkait.
"Kami prinsipnya ikuti ketentuan yang ada. Perizinan kami punya, jalur hukum kami pun sudah pegang hasil PTUN. Terus harus langkah mana lagi kami juga bingung. Mungkin Anda-Anda dan masyarakat semua lah yang bisa coba kasih kami cara," sambung Noni. Ayong L, yang mewakili teman-temannya sesama sopir Blue Bird, meminta dengan sangat agar laporan penganiayaan yang dialaminya bisa diusut tuntas.
"Ancaman langsung atau klimaks sudah kami rasakan. Kemarin kami dipaksa turun, mobil kami diarak sampai ke Pemko Batam. Kami juga orang Batam, orang lain boleh masuk bekerja ke mari. Tapi kenapa kami yang warga Batam malah nggak boleh. Kami juga butuh bekerja untuk menafkahi anak-anak kami," kata Ayong masih dengan perban di kepalanya. (*)
Anda sedang membaca artikel tentang
Kami Ada Izin dan Menang di PTUN Harus Bagaimana Lagi
Dengan url
https://sriwijayaposting.blogspot.com/2012/12/kami-ada-izin-dan-menang-di-ptun-harus.html
Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya
Kami Ada Izin dan Menang di PTUN Harus Bagaimana Lagi
namun jangan lupa untuk meletakkan link
Kami Ada Izin dan Menang di PTUN Harus Bagaimana Lagi
sebagai sumbernya
0 komentar:
Posting Komentar