Buruh SPMI seperti Mau Perang, Investor Batamindo Ketakutan

Written By Unknown on Rabu, 05 Maret 2014 | 12.45

Laporan Wartawan Tribunnews Batam,  M Zuhri

TRIBUNNEWSBATAM.COM, BATAM- Sejumlah perusahaan asing di Kawasan Industri Batamindo mulai ketakutan dengan serangkaian aksi unjuk rasa buruh di Batam, Senin (3/3). Apalagi unjuk rasa yang dilakukan menjadi kesan sebagai ancaman kenyamanan dalam berinvestasi.

"Itu kan tidak ada izin. Demonya sampai malam, jam 18.30 malam. Bawa Garda Metal (SPMI) seperti mau perang. Udah tidak benar itu," kata Johannes Sulistiawan, General Manager Batamindo Investment Cakrawala, Batam ketika menghubungiTribun, kemarin.

Senin lalu, ratusan buruh menggelar unjuk rasa rencana kenaikan tarif listrik PT PLN Batam, di Kantor PLN Batam, Batam Centre. Usai unjuk rasa, para buruh singgah di sebuah perusahaan asing di Batamindo, untuk memberikan dukungan moril untuk 45 pekerja yang terkena PHK.

Menurut John, apa yang diperjuangkan para buruh terutama dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Batam sudah di luar jalur. "Kalau dari organisasi buruh lain saya nggak ada lihat, kan tidak harus begitu caranya," kata John.

Ia khawatir, gara-gara memperjuangkan beberapa orang, serikat buruh justru mengorbankan ribuan pekerja. "Kalau perusahaannya kabur, emang SPMI bertanggungjawab," kata dia.

John menambahkan, aksi itu telah mengundang reaksi besar kekecewaan di kalangan pengusaha di kawasan industri terbesar di Kepri itu.

"Orang tentunya tahu saya sebagai manajemen di Batamindo, sudah tentu mereka bertanya, kenapa ini kok bisa begini?" ujar John.

Padahal dalam pandangan John, perjuangan buruh tak harus dengan unjuk rasa, namun bisa melalui jalur yang sudah ada.

"Buruh bisa ke Dinas Tenaga Kerja," kata dia. Lagi pula, ia menambahkan, saat ini permasalahan di sebuah perusahaan di Batamindo itu masih dalam tahap pembicaraan dengan pihak pekerja.

Saat ini menurut John dari tahun ke tahun, pertumbuhan investasi menurun. Itu dapat dilihat data dari investor yang menanamkan modal di Batam.

Di Batamindo saja, kata John, dari 95 investasi asing atau pemilik modal asing, jauh berkurang menjadi sekitar 68 pemilik modal asing.

Sedangkan jumlah pekerja juga otomatis berpengaruh. "Dari jumlah semula sekitar 85 ribu, sekarang hanya tersisa 48 ribu orang," ujar dia.

Kondisi ini tak lepas dari kondisi keamanan dan kenyamanan berinvestasi, permasalahan ketenakerjaan. "Anda kalau usaha didemo terus pasti tidak nyaman kan," ucapnya.

John mengatakan, saat ini kehidupan buruh sudah cukup lumayan, apalagi dengan upah minimun kota lebih tinggi, membuat kehidupan buruh cukup baik.

"Kalau dihitung lembur barangkali bisa memperoleh penghasilan per bulan Rp 3 juta," kata dia.

Ironisnya, di sisi lain banyak saat ini para pencari kerja yang tengah berjuang mendapatkan pekerjaan.

"Coba kita lihat di Community Centre  Batamindo, banyak pencari kerja setiap hari. Mereka datang bawa anak. Makan roti satu berdua. Ini sebagai bukti masih banyak yang mati-matian mencari kerja," kata John.

Harusnya melihat kondisi itu, kata John, buruh harus sadar bahwa perlu menjaga kenyamanan investor, agar banyak peluang kerja. John pun mengetuk pintu hati para buruh yang kerap unjuk rasa, agar menyampaikan aspirasi dengan cara-cara yang lebih santun dan baik.


Anda sedang membaca artikel tentang

Buruh SPMI seperti Mau Perang, Investor Batamindo Ketakutan

Dengan url

https://sriwijayaposting.blogspot.com/2014/03/buruh-spmi-seperti-mau-perang-investor.html

Anda boleh menyebar luaskannya atau mengcopy paste-nya

Buruh SPMI seperti Mau Perang, Investor Batamindo Ketakutan

namun jangan lupa untuk meletakkan link

Buruh SPMI seperti Mau Perang, Investor Batamindo Ketakutan

sebagai sumbernya

0 komentar:

Posting Komentar

techieblogger.com Techie Blogger Techie Blogger